Selama hidupnya, ia selalu di selimuti ke khawatiran.
Sebelum menikah ia akan di khawatir kan oleh sosok pasangan seperti apa yg akan membingbingnya kelak.
Setelah menikah ia masih di khawatir kan akan kehamilan yg belum juga ia dapatkan, apalagi jika mendengar suara-suara sumbang dari pertanyaan orang-orang.
Terdengar hanya sebuah basa basi, tspi percayalah pernyataan tersebut bisa membuat muak jika terus menerus di dengar..
Oh ya belum selesai wanita setelah hamil, iapun masih di khawatir kan dengan bayi yg ada di dalam rahimnya " apakah ia sehat? apakah pertumbuhannya normal? "
Dan ternyata setelah melahirkan ia pun masih di khawatir kan tentang tumbuh kembang si anak yg ia lahirkan, tak hanya itu.
Wanita dan seorang ibu yg sudah sepaket, akan di khawatirkan kembali tentang bagaimana cara ia mendidik bayik kecilnya, apakah sudah sesuai syariatnya? apakah adab dan ilmu yg di ajarkannya bisa menjadi benteng ketika ia berada di luar rumah.
Sejatinya, ia selalu di khawatir kan oleh hal-hal yg belum terjadi, dan masa itu ia tau akan di lalui.
Yaaa, dia wanita.
Maka tak heran, dalam kesehariannya wanita selalu melibatkan perasaan terlebih dahulu di banding akal nya.
Meski ia tau jika kehidupan ini sudah Allah rancang sebaik mungkin.
Namun, ke khawatiran itu kadang kala datang membuat diri sibuk hanya dengan pikirannya.
